KABAR PETANI : TEMBAKAU MULAI DITINGGALKAN, MENGAPA?

KABAR PETANI
Memilih untuk menanam komoditas lain setelah petani suatu komoditas tidak bisa mengharapkan hasil panennya memang kerap kali terjadi. Kali ini datang dari para petani di daerah Temanggung yang sedari dulu sudah bersahabat dengan komoditas tembakau. Para petani tembakau tersebut lebih memilih untuk beralih menanam komoditas lain seperti sayuran. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai macam hal yang pada intinya menyebabkan petani tembakau mengalami kerugian ketika menanam tembakau.

Menurut penjelasan dari Bunadi, seorang petani di Desa Tegalrejo, saat ini dia mulai beralih dari menanam tembakau ke komoditas lain. Dari 7.500 meter persegi lahan yang disewanya, saat ini 2.500 meter persegi sudah dialihkan menjadi tanaman kubis dan sisanya 5.000 meter persegi pun tidak seluruhnya ditanami tembakau dan ditanami tanaman cabai secara tumpang sari. Padahal sebelumnya, 7.500 meter persegi sewaannya ditanami tembakau seluruhnya. Bunadi beranggapan bahwa yang menyebabkan dia beralih dari tembakau yaitu karena seringnya gagal panen yang disebabkan oleh cuaca kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman tembakau. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan banyak tanaman tembakau mati dan yang mampu bertahan hidup pun kualitasnya menurun sehingga harga jual rendah.

Senasib dengan Bunadi, Wiratmi yang juga petani Desa Tegalrejo mengaku pesimistis terhadap hasil panen tembakau kali ini karena cuaca yang masih tidak mendukung. Dia mengalami hal yang hampir sama ruginya dengan Bunadi, namun bukan gagal panen tetapi bibit tembakau yang telah ditanam membusuk karena intensitas hujan yang tinggi. Petani tembakau lain, Sunaryono dari Desa Ngimbrang, memutuskan untuk tidak sama sekali menanam tembakau tahun ini. Dia lebih memilih menanam cabai dan saat ini 7.000 meter persegi lahannya sedang dipersiapkan untuk menanam brokoli. Menurutnya, menanam sayuran memberikan jaminan keuntungan yang lebih pasti daripada menanam tembakau.

Menurut Bappeda Kabupaten Kendal, tanaman tembakau sebenarnya tidak menghendaki iklim yang kering ataupun iklim yang sangat basah. Angin kencang yang sering melanda lokasi tanaman tembakau dapat merusak tanaman (tanaman roboh) dan juga berpengaruh terhadap mengering dan mengerasnya tanah yang dapat menyebabkan berkurangnya kandungan oksigen di dalam tanah. Untuk tanaman tembakau dataran rendah, curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun, sedangkan untuk tembakau dataran tinggi, curah hujan rata-rata 1.500-3.500 mm/tahun. Penyinaran cahaya matahari yang kurang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik sehingga produktivitasnya rendah. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman tembakau berkisar antara 21-32 derajat celcius.

Bisa dilihat dari pemaparan di atas, sebenarnya hujan yang menyebabkan tanaman tembakau rusak tidak hanya karena kuantitas airnya yang tinggi, namun dapat menyebabkan angin kencang ketika hujan yang dapat menyebabkan tanaman roboh dan berpengaruh pada tanah, kemudian penyinaran yang kurang ketika hujan serta suhu yang kurang cocok karena hujan.

Harapannya memang ketika para petani beralih dari menanam tembakau ke komoditas lain, tidak mengganggu produktivitas tembakau untuk skala nasional dan untuk jangka waktu beberapa tahun ke depan dan tentunya yang paling penting adalah petani harus sejahtera.

Sumber :
“Petani Berganti Tanaman”, Kompas Sabtu, 13 Mei 2017

http://bappeda.kendalkab.go.id/lahan/content.php?query=tentang_tembakau

Departemen Kajian Strategis
BEM FTP UGM
Kabinet Palawija

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *